بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

KH Ahmad Musyafa
Dibacakan pada khutbah Idul Adha 1429 H di Pelataran Parkir Graha Widya Wisuda (GWW) IPB
Marilah kita tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT dengan sepenuhnya patuh dan tunduk kepadaNya serta melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi segala laranganNya. Karena dengan takwa insya Allah kita akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Kaum muslimin rahimakumullah
Banyak saudara-saudara kita di tahun lalu masih bersama kita malaksanakan shalat idul adha di tempat ini, tetapi pada hari ini mereka telah tiada, dipanggil oleh Allah SWT mendahului kita semua. Oleh karena itu pada hari ini kita bersyukur kepada Allah SWT atas sisa umur yang telah diberikan kepada kita, serta atas segala nikmat dan karunianya, terutama nikmat iman dan islam. Sehingga pada hari ini pula kita dalam keadaan sehat wal’afiat, aman, tentram, dan sejahtera, sehingga kita dapat melaksanakan shalat ‘idul adha.
Kaum muslimin rahimakumullah
Kira-kira sejak tahun ke-2 Hijriyah, sholat ,idul adha maupun idul fitri dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. Alhamdulillah sampai hari ini pula seluruh umat Islam melaksanakan anjuran tersebut. Hal ini dilaksanakan arena membawa kemaslahatan yang besar, yaitu dengan adanya persatuan dan kesatuan seluruh umat islam di dunia, dimana mereka tegak bersatu di belakang imam untuk melaksanakan sholat idul adha ini, menunjukan bahwa shalat shalat hari raya idul adha merupakan sarana pemersatu. Disamping itu, adanya rasa solidaritas dan kasih sayang diantara umat islam terutama bagi mereka yang mampu melaksanakan memotong hewan qurban, karena mereka dapat membantu menghilangkan rasa lapar yang dialami oleh saudara-saudaranya yang fakir miskin. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
“ Makanlah olehmu sekalian dari daging qurban itu dan berilah makan sebagian orang-orang yang sangat membutuhkan dan orang yang sangat faqir.” (QS Al Hajj : 28)
Kaum muslimin rahimakumullah
Adapun sejarah diadakannya ‘id, baik ‘idull fitri maupun ‘idul adha, sebelum keduanya dijadikan hari besar umat islam adalah sebagai berikut. Setelah terjadinya hijrah, yaitu waktu nabi Muhamma SAW datang ke Madinah, beliau melihat sahabat Anshor merayakan kedua hari yang oleh orang arab dinamakan sebagai hari Neiruz dan Mihrojan.
Kemudian Nabi bertanya : “Apakah kedua hari itu?” mereka menjawab “Kami jaman jahiliyah bersenang-senang di kedua hari itu.” Maka Rasulullah SAW bersabda “Sungguh Allah SWT telah menggantikan kedua hari itu untuk kalian semua yang lebih baik, yakni ‘Idul fitri dan ‘idul adha.”
Memperhatikan penggantian dan penetapan hari tersebut, dapatlah dimengerti bahwa islam datang tidaklah lantas merobek-robek dan membasmi kebiasaan-kebiasaan yang sudah ada. Akan teapi memperbaiki, mengamandemen, dan menyesuaikan dengan ajaran-ajaran islam. Mana yang bertentangan dihapus dan mana yang tidak ditetapkan berlakunya. Hal ini terlihat juga dalam ibadah seperti haji, puasa, dan lail-lain, maupun dalam masalah muamala seperti jual beli, sewa-menyewa, pegadaian, dan sebagainya.
Kaum muslimin rahimakumullah
Hari raya qurban atau hari raya ‘idul adha adalah hari yang penting bagi umat islam. Mengapa demikian? Karena ‘idul adha merupakan hari puncak perjuanagn jihad nabi Ibrahim as dalam melaksanakan perintah Allah SWTyang terberat, yaitu perintah untuk menyembelih putranya nabi Ismail as. Oleh karena itu, nabi Ibrahim as diberi gelar khalilullah sebagai kekasih Allah; kesayangan Allah; orang yang paling disayang; paling dicintai dan paling dekat dengan Allah, sehingga para penghuni langit protes “layakkah seorag Ibrahim yang merupakan manusia biasa diberi gelar khalilullah?” maka semua itu telah dibuktikan oleh nabi Ibrahim as pada hari yang kita rayakan bersama, yaitu ‘idul adha. Beliau berani mengorbankan apa saja, bahkan untuk menyembelih puteranya sendiri demi printah dan mengharap ridha Allah SWT. Oleh karena itu, sebagai umat nabi Muhammad SAW diperintahkan oleh Allah untuk selalu mengikuti jejak perjuangan beliau. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS Ali Imran 95)
Kaum muslimin rahimakumullah
Mengapa kita umat islam diperintah oleh Allah SWT untuk mengikuti dan mencontoh nabi Ibrahim as? Karena beliau adalah seorang imam, pemimpinj besar, seorang bapak dari para nabi, yang semua tindakan-tindakannya, semua perilakunya, perjuangannya, tarbiyahnya, penuh dengan nilai-nilai kemuliaan, penuh dengan suri tauladan, dan penuh dengan ketaatan. Beliau adalah seorang yang sepenuhnya taat kepada Allah SWT. Orang yang sangat sabar, santun, gigih, dan kokoh dalam pendiriannya. Seorang yang sangat pemberani dan selalu membela kebenaran dengan disertai kematangan dan kemampuan intelektual yang sempurna, sehingga berhasillah semua perjuangan nabi Ibrahim as dengan gilang-gemilang. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasul orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. (QS An Nahl : 120-121) Baca Lanjutannya…








