Oleh: dibays | 25, September 2007

Makna Saum

Hakikat dari pelaksanaan ibadah shaum Ramadhan adalah imsak, yakni menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, dan segala hal yang membatalkan ibadah puasa Ramadhan. Sedangkan hakikat imsak tersebut adalah kesadaran kita bahwa sebagai hamba Allah SWT bahwa kita sedang melaksanakan kewajiban yang Dia fardhukan untuk kita, yakni ibadah shaum.

Kesadaran itu adalah kesadaran hubungan kita dengan Allah (idrak shilah billah). Kesadaran bahwa Allah adalah Al Khaliq, yakni Sang Maha Pencipta yang telah menciptakan manusia, kehidupan, dan alam semesta tempat manusia hidup. Kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya.

Kesadaran bahwa Allah SWT telah membuat seperangkat aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia sehingga manusia bisa berjalan di atas bumi dengan mengikuti petunjuk aturan Allah SWT tersebut. Kesadaran bahwa bilamana manusia berjalan di muka bumi di atas aturan Allah tersebut, manusia akan terpenuhi kebutuhannya dan akan terjamin kemaslahatannya. Dan bilamana perjalanan di muka bumi di dalam track peraturan-Nya itu mereka tempuh dengan sepenuh keimanan dan keikhlasan, maka Allah janjikan kepada mereka akan mendapat keridhaan serta surga-Nya.

Oleh karena itu, ketika memulai imsak pada saat terbit fajar (waktu Shubuh), seorang Muslim menyadari bahwa dia sedang on line dengan Allah SWT. Dia sadar bahwa dia sedang beribadah kepada-Nya dengan menetapi ketentuan-Nya, yakni menahan diri pada periode imsak (Shubuh sampai Maghrib) dari makan dan minum serta berhubungan suami istri yang pada malam harinya atau pada siang hari di bulan lain hal itu dihalalkan.

Kesadaran sebagai hamba Allah yang menaati perintah-Nya itulah yang membuat dia mudah dan tahan serta antusias melakukan imsak. Kesadaran itulah yang pada gilirannya akan melahirkan kekuatan spiritual (al quwwah ar ruhiah) dalam dirinya sehingga mampu menahan lapar dan haus serta mengendalikan hawa nafsunya. Kekuatan spiritual yang terlahir dari kesadaran akan hubungan dengan Allah SWT itu merupakan kekuatan yang tiada tara, dia melebihi kekuatan fisik maupun kekuatan mental manusia.

Kekuatan itu menjadikan manusia melebihi kekuatan aslinya. Sebab dia dipinjami kekuatan oleh Allah Yang Mahaperkasa. Pantaslah para sahabat Rasulullah SAW dahulu mampu mengayunkan pedang di siang hari di panas terik di atas padang pasir bertarung melawan tentara kafir dalam keadaan berpuasa. Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh : Muhammad Al Khaththath (www.republika.co.id)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: