Oleh: dibays | 10, Juni 2008

Asyiknya Berbicara dengan Akhwat

Kawan, pernahkan kalian mendengar atau menyaksikan jika sahabat/kawan kita sedang berbicara di telpon dengan lawan jenisnya? Kalau cewek cowok mungkin sudah biasa kita mendengarnya, tapi jika ikhwan dan akhwat (Bukan Muhrimnya) yang berbicara, apalagi komunikasi di telponnya relatif lama (>30 menit), ngobrolnya kemana-mana dan berlenje-lenje, rasanya risih banget. Kalau saja yang dibicarakan adalah yang penting-pentingnya saja, mungkin 5-10 menit pun kelar.

Komunikasi antara ikhwan dan akhwat di telpon tidaklah salah, namun kita pun harus berusaha untuk membatasi dan menjaga hati kita agar dari komunikasi itu tidak menimbulkan sesuatu yang lain(?!). Lagian, kalau nelpon lama-lama kan sayang pulsa dan batrenya kebuang percuma (Ayo hemat energi !), apalagi kalau yang dibicarakan adalah hal-hal yang tidak penting!

Berikut adalah tulisan yang diambil dari sebuah majalah…

Berkomunikasi dengan lawan jenis, boleh-boleh saja, asalkan hanya dalam batas yang memang diperlukan. Jangankan dengan lawan jenis, dalam segala hal saja, Umar bin Al-Khattab pernah mengatakan,

“Ucapan itu hanya ada empat, selain itu cuma sampah belaka. Pertama, membaca Al-Quran. Kedua, membaca hadits-hadits nabi. Ketiga, membaca ucapan-ucapan penuh hikmat dari para ulama. Keempat, berbicara hal yang penting, dalam soal keduniaan”

Tidak layak seorang muslim atau muslimah mengobrol dalam soal-soal keseharian secara berlebihan, karena semua itu ibarat sampah yang seringkali mengandung kotoran dosa dan maksiat. Apalagi, antara seorang muslimah dengan seorang muslim, yang harus saling menjaga kehormatan masing-masing.

Memang, berbicara dengan lawan jenis diperbolehkan. Tapi para ulama, memberikan beberapa rambu, sesuai dengan berbagai nash dalam syariat yang ada.

Menahan Pandangan

Allah berfirman,

”Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya …” (An-Nur: 30-31)

Menutup Aurat

Allah berfirman,

”… Dan janganlah mereka (wanita-wanita mukmin) menampilkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari pandangan dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya …” (An-Nur: 31)

Artinya, bila harus berbicara dengan pria non mahram, seorang wanita muslimah harus menutup aurat sebatas yang dia yakini sebagai aurat, menurut dasar yang jelas.

Tenang dan Terhormat dalam Gerak-Gerik

Allah berfirman,

“… Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)

Di sini, yang perlu dihindari oleh seseorang saat berbicara dengan lawan jenis non mahram adalah tutur kata yang dibuat-buat, yang dibikin supaya menarik, mendayu-dayu, mendesah-desah, atau dengan menggunakan suara yang diperindah, terlalu lemah lembut, dan sejenisnya. Bicaranya harus tegas, lugas dan seperlunya saja.

Serius dan Sopan dalam Berbicara

Allah berfirman,

“… Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)

Artinya, seseorang tidak layak banyak bergurau dan bercanda saat berbicara atau membicarakan sesuatu dengan lawan jenisnya. Karena, canda dan tawa itu dapat mengundang ketertarikan pihak lawan jenis. Dan itu bahaya yang perlu dihindari sebisa mungkin.

Hindari Membicarakan Hal-hal yang Tidak Perlu

Segala yang bersifat darurat, haruslah dibatasi sebisa mungkin. Meski berbicara dengan lawan jenis tidak selalu merupakan hal darurat bagi seseorang, namun berbicara secara panjang lebar bisa menyudutkan seorang wanita muslimah dalam kedaruratan. Karena itu akan bisa menggiringnya untuk sedikit banyak menyentuh hal-hal yang dianggap kurang baik, atau bahkan dilarang dalam Islam. Oleh sebab itu, coba batasi ruas-ruas pembicaraan, dan hindari topik-topik yang tidak perlu dibahas.

Allah berfirman,

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna” (Al-Mukminun : 1-3)

Berbicara lewat telpon, boleh-boleh saja. Dalam hal ini, setidaknya dengan tingkat kecanggihan media telpon yang umum hingga saat ini, soal pandangan haram bisa nyaris dihindarkan sama sekali. Tapi soal adab-adab lain dalam berbicara, harus tetap diperhatikan. Wallahu a’lam..

(Ustadz Abu Umar Basyier). Majalah Nikah- Vol. 5, No. 6


Responses

  1. assalamu’alaikum..
    kak, artikel nya boleh ana minta dan ditaro di blog ana tidak? ana mau minta izin dulu niyh.. soalnya artikelnya bagus2 kak.. afwan sebelumnya.

  2. numpang lewat

  3. assalamualaikum kak.
    salam kenal kal dari linda, kak boleh ngak linda copy paste ke blog linda buat teman2 linda.

  4. aslm, akh.. Minal aidin wal faiidzin ya.. Oya artikelnya bagus bgt,, mengingatkan ana… Trus yg jd pertanyaan kalo ngobrolnya lewat chatting gimana????
    Jazakallah…

  5. Askum..artikelnya bagus dan berguna sekali apalagi untuk akwat yang belum paham batas-batas pergaulan antara lawan jenis, trus yg jadi pertanyaan kalo ngobrolnya lewat sms gimana???
    Jazakallah…

  6. Askum..gimana ya..smoga Allah melindungi qt dr godaan setan, apalagi dalam menjaga pandangan terhadap kaum hawa…amiiin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: