Oleh: dibays | 13, Desember 2008

Khutbah Idul Adha 1429 H

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

cover-web

KH Ahmad Musyafa

Dibacakan pada khutbah Idul Adha 1429 H di Pelataran Parkir Graha Widya Wisuda (GWW) IPB

Marilah kita tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT dengan sepenuhnya patuh dan tunduk kepadaNya serta melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi segala laranganNya. Karena dengan takwa insya Allah kita akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Kaum muslimin rahimakumullah

Banyak saudara-saudara kita di tahun lalu masih bersama kita malaksanakan shalat idul adha di tempat ini, tetapi pada hari ini mereka telah tiada, dipanggil oleh Allah SWT mendahului kita semua. Oleh karena itu pada hari ini kita bersyukur kepada Allah SWT atas sisa umur yang telah diberikan kepada kita, serta atas segala nikmat dan karunianya, terutama nikmat iman dan islam. Sehingga pada hari ini pula kita dalam keadaan sehat wal’afiat, aman, tentram, dan sejahtera, sehingga kita dapat melaksanakan shalat ‘idul adha.

Kaum muslimin rahimakumullah

Kira-kira sejak tahun ke-2 Hijriyah, sholat ,idul adha maupun idul fitri dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. Alhamdulillah sampai hari ini pula seluruh umat Islam melaksanakan anjuran tersebut. Hal ini dilaksanakan arena membawa kemaslahatan yang besar, yaitu dengan adanya persatuan dan kesatuan seluruh umat islam di dunia, dimana mereka tegak bersatu di belakang imam untuk melaksanakan sholat idul adha ini, menunjukan bahwa shalat shalat hari raya idul adha merupakan sarana pemersatu. Disamping itu, adanya rasa solidaritas dan kasih sayang diantara umat islam terutama bagi mereka yang mampu melaksanakan memotong hewan qurban, karena mereka dapat membantu menghilangkan rasa lapar yang dialami oleh saudara-saudaranya yang fakir miskin. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

“ Makanlah olehmu sekalian dari daging qurban itu dan berilah makan sebagian orang-orang yang sangat membutuhkan dan orang yang sangat faqir.” (QS Al Hajj : 28)

Kaum muslimin rahimakumullah

Adapun sejarah diadakannya ‘id, baik ‘idull fitri maupun ‘idul adha, sebelum keduanya dijadikan hari besar umat islam adalah sebagai berikut. Setelah terjadinya hijrah, yaitu waktu nabi Muhamma SAW datang ke Madinah, beliau melihat sahabat Anshor merayakan kedua hari yang oleh orang arab dinamakan sebagai hari Neiruz dan Mihrojan.

Kemudian Nabi bertanya : “Apakah kedua hari itu?” mereka menjawab “Kami jaman jahiliyah bersenang-senang di kedua hari itu.” Maka Rasulullah SAW bersabda “Sungguh Allah SWT telah menggantikan kedua hari itu untuk kalian semua yang lebih baik, yakni ‘Idul fitri dan ‘idul adha.”

Memperhatikan penggantian dan penetapan hari tersebut, dapatlah dimengerti bahwa islam datang tidaklah lantas merobek-robek dan membasmi kebiasaan-kebiasaan yang sudah ada. Akan teapi memperbaiki, mengamandemen, dan menyesuaikan dengan ajaran-ajaran islam. Mana yang bertentangan dihapus dan mana yang tidak ditetapkan berlakunya. Hal ini terlihat juga dalam ibadah seperti haji, puasa, dan lail-lain, maupun dalam masalah muamala seperti jual beli, sewa-menyewa, pegadaian, dan sebagainya.

Kaum muslimin rahimakumullah

Hari raya qurban atau hari raya ‘idul adha adalah hari yang penting bagi umat islam. Mengapa demikian? Karena ‘idul adha merupakan hari puncak perjuanagn jihad nabi Ibrahim as dalam melaksanakan perintah Allah SWTyang terberat, yaitu perintah untuk menyembelih putranya nabi Ismail as. Oleh karena itu, nabi Ibrahim as diberi gelar khalilullah sebagai kekasih Allah; kesayangan Allah; orang yang paling disayang; paling dicintai dan paling dekat dengan Allah, sehingga para penghuni langit protes “layakkah seorag Ibrahim yang merupakan manusia biasa diberi gelar khalilullah?” maka semua itu telah dibuktikan oleh nabi Ibrahim as pada hari yang kita rayakan bersama, yaitu ‘idul adha. Beliau berani mengorbankan apa saja, bahkan untuk menyembelih puteranya sendiri demi printah dan mengharap ridha Allah SWT. Oleh karena itu, sebagai umat nabi Muhammad SAW diperintahkan oleh Allah untuk selalu mengikuti jejak perjuangan beliau. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS Ali Imran 95)

Kaum muslimin rahimakumullah

Mengapa kita umat islam diperintah oleh Allah SWT untuk mengikuti dan mencontoh nabi Ibrahim as? Karena beliau adalah seorang imam, pemimpinj besar, seorang bapak dari para nabi, yang semua tindakan-tindakannya, semua perilakunya, perjuangannya, tarbiyahnya, penuh dengan nilai-nilai kemuliaan, penuh dengan suri tauladan, dan penuh dengan ketaatan. Beliau adalah seorang yang sepenuhnya taat kepada Allah SWT. Orang yang sangat sabar, santun, gigih, dan kokoh dalam pendiriannya. Seorang yang sangat pemberani dan selalu membela kebenaran dengan disertai kematangan dan kemampuan intelektual yang sempurna, sehingga berhasillah semua perjuangan nabi Ibrahim as dengan gilang-gemilang. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasul orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. (QS An Nahl : 120-121)

Kaum muslimin rahimakumullah

Kita bisa lihat bagaimana keberanian nabi Ibrahim as bagaimana kokohnya pendirian beliau ketika beliau katakan kepada bapaknya dan kaumnya sewaktu mengajak mereka ke dalam agama yang benar dan lurus.

Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?, karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam.” (QS Asy Syuara: 75-77)

Kenapa nabi Ibrahim seorang diri begitu beraninya, begitu kokohnya. Beliau berani melawan arus. Berani menanggung resiko dan kekejaman orang-orang kafir. Dengan tanpa bergeming, beliau tetap berdakwah kepada mereka. Padahal diancam akan dibunuh dan dibakar. Hal demikian adalah karena di dalam dada beliau benar-benar terpatri rasa takbirullah (kebesaran dan keagungan Allah). Hanya Allah lah yang Maha Besar, dan hanya Allah lah yang Maha Agung. Seorang yang di dalam dirinya terpatri rasa takbirullah maka ia akan mempunyai pendirian yang kokoh dan idealisme yang kuat. Ia tidak akan rontok oleh hempasan ombak dan tiupan badai. Seribu tantangan yang kunjung datang , di takkan mundur dan gentar . seribu rayuan dia takkan terbujuk atau tergoda. Dalam hal ini Allah SWT berfirman

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang ragu. (Q.S. Al-Baqoroh : 147)

Kaum muslimin rahimakumullah, disamping beliau pemberani, berpendirian kokoh, juga seorang yang sangat membela kebenaran. Beliau selalu bijaksana, santun, sabar dan berakhlak mulia dalam berdakwah serta ucapan-ucapan beliau senantiasa merupakan doa dan keselamatan. Hal tersebut dapat dilihat dari jawaban beliau ketika diancam oleh ayahnya sewaktu mengajak ayahnya itu untuk beriman kepada Allah SWT, pada Al-quran surat Maryam ayat 56 dan 47 dan surat Asy-syuaraa ayat 86.

berkatalah bapaknya, “bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”. Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS. Maryam 46-47)

“Dan ampinilah bapakku, karena sesungguhnya ia termasuk golongan orang-orang yang sesat” (Q.S Asy-syuaraa : 86)

Disinilah kita bisa mengambil pelajaran bahwa seorang pemimpin sekaligus pejuang disamping harus mempunyai iman dan pendirian yang kokoh serta membela kebenaran apapun resikonya, juga harus bijaksana dan tahan uji. Sebab perjuangan tidak akan langsung membawa kemenangan. Menegakkan keadilan tidak akan sekaligus berhasil akan tetapi memerluakan kesabaran dan keuletan. Hal demikian juga dialami oleh Rasulullah ketika hijrah ke Thaif. Beliau dilempari batu sampai kakinya berdarah, namun rasulullh SAW malah membalasnya dengan doa

“ ya Allah berikanlah hidayah kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak tahu.”

Seolah-olah seperti kata pepatah

“jadilah kamu seperti pohon yang dilempari batu tetapi malah membalas dengan menjatuhkan buah yang manis rasanya.”

Kaum muslimin rahimatullah nabiyullah Ibrahim a.s disamping telah berhasil dalam perjuangannya menegakkan kebenaran, beliau juga berhasil dalam mentarbiyah keluarganya (anak dan istrinya), karena beliau selalu menanamkan kepada mereka kecintaan kepada Allah SWT. Hanya cinta kepada Dinul Haq. Dan hanya boleh mati dalam keadaan iman islam sesuai firman Allah SWT:

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati selain kecuali dalam memeluk agama islam.” (Q.S Al-Baqarah :132)

Oleh karena itu keluarga Ibrahim, anak-anak dan istrinya selalu medukung perjuangan beliau. Hal ini bisa kita lihat ketika Ibrahim meminta pendapat kepada Ismail puteranya kemudian apa jawaban Ismail terhadap ayahnya itu tertuang dalam firman Allah SWT

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata : “Hai anakku seseungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab : “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Q.S. Ash-Shofat : 102)

Begitu pula istrinya (Siiti Hajar) dngan lapang dada telah dapat menerima untuk ditinggalkan di padang pasir yang tandus, tidak ada air, serta menghadapi situasi yang serba sulit, karena itu memang perintah Allah SWT. Semuanya itu merupakan bukti keberhasilan dan kebahagiaan Nabiyullah Ibrahim a.s. dalam mentarbiyah keluarganya. Dalam hal ini Allah SWT berfirman :

(yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah kami memberi alasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Ash-Shofat : 109-110)

Kaum muslimin rahimakumullah

Di sini dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan seseorang ada pada tiga hal sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW dalam sabdanya :

“Di antara kebahagiaan seseorang ada pada tiga hal : (1) Jika istrinya seorang shalihah, (2) jika anak-anaknya Shaleh dan shalehah yang berbakti kepada orang tuanya, (3) jika rizkinya (ekonomi) ada di daerahnya (negerinya).”

Namun jika kita lihat kenyataan yang ada di masyarakat kita sungguh menyedihkan. Banyak orang-orang tua yang shaleh, ahli ibadah, namun keluarganya dan instrinya jauh sekali dari agama, bahkan lebih dari itu. Banyak sekali para orang tua justru hancur dirusak oleh perilaku keluarganyya, anak dan istrinya. Hal demikian telah diperingatkan oleh Rasulullah SAW:

“Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana hancurnya seseorang itu justru di tangan istrinya sendiri, di tangan anaknya sendiri dan di tangan kedua oranng tuanya sendiri. Mereka semua selalu memperolok-olok/ mengejeknya dengan kefakiran dan mereka menuntutnya apa yang dia tidak mampu.maka karena tuntutan mereka itulah khirnya ia masuk pada tempat-tempat yang dilarang oleh agama demi memenuhi tuntuta mereka. Maka hilanglah agamanya dan hancurlah dia.”

Oleh karena itu dalam kesempatan ini marilah kita harus selalu mendidik keluarga kita, anak-anak dan istri kita dengan pendidikan yang benar. Kita tanamkan kepada mereka untuk selalu mencintai Allah dan RasulNya, selalu mencintai ajaran-ajaranNya. Kita ajarkan kepada mereka membaca Al-Qur’an dan menghafalnya, untuk memahai Al-Qur’an dan sunnah RasulNya sekaligus mengamalkannya. Kita siapkan generasi-generasi penerus perjuangan Ibrahim a.s. yaitu generasi yang cerdas, mempunyai pendirian yang kokoh yang selalu membela kebenaran, generasi beriman yang kuat dan mempunyai langkah yang mantap dan tepat.

Hadirin kaum muslimin rahimakumullah

Kalu kita melihat kenyataan dan keadaan yang ada pada umat Islam sekarang ini sudah benar-benar memprihatinkan kalau dibandingkan dengan permulaan lahirnya Islam, kenapa demikian? Maka jawabannya adalah beberapa sebab, di mana sebab itu sebagaian datang dari orang-orang yang tidak senang dengan Islam. Adapun yang datang dari dalam atau dari tubuh umat Islam sendiri adalah wajar karena sudah menjadi sunatullah, bahwa Allah SWT tidak akan menjatuhkan suatu golongan atau bangsa yang pernah diangkatnya kecuali ulah atau kesalahan mereka sendiri sebagaiman firman Allah SWT:

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangnmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (Asy-Syura : 30)

Begitu pula Allah berfirman

“ Sesunggugnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Q.S AR-RAd : 11)

Jadi jelaslah sebab kemunduran Islam yang datang dari dalam adalah justru karena keslahan umat Islam sendiri. Di mana tingkah lakunya sehari-hari, cara hidupnya sehari-hari kebanyakan sudah jauh dari petunjuk kitab pegangan mereka yaitu Al Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Cara menjalankan roda ekonominya, cara berpakaian, cara jual-beli, dan lain sebagainnya sudah tidak cocok lagi dengan Al-Qur’an dan sunnah. Bahkan seorang muslim mengaku muslim tetapi tidak mengetahui apa yang mesti dilakukan seoarang muslim. Bahkan na’uzubillah mereka tidak tahu dn tidak merasa kalu dirinya seorang muslim, karena sudah jauh sekali cara hidup dan kehidupannya sehari-hari dari tatanan Islam. Mereka sudah bingung dan seakan-akan tidak ada pegangan dalam hidup. Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan mereka dengan sabdanya ketika beliau melihat suatu lembaran yang dikutip orang-orang ahli kitab :

“Sungguh Aku telah datang kepadamu dengan membawa lembaran yang putih bersih dan jelas. Dan jangalah kamu sekalian menjadi bingung dan terbujuk oelh orang-orang yang bingung pula.”

Hadirin kaum muslimin

Kalu syariat Islam tidak diamalkan dan ajaran Islam dibuang oleh masyarakat, maka ini sebabnya adalah bukan datang dari luar tapi justru datang dari umat Islam itu sendiri. Kenapa umat Islam menyekolahkan anaknya di sekolah yang tidak menghormati ajaran Islam, kalau Al-Qur’an tidak dibaca dan dipahami oleh umat Islam atau masyarakat Islam, inipun jangan menyalahkan orang lain. Tapi itu juga keslahan umat Islam sendiri, karena ada pelajaran kurikulum pada sekolah-sekolah umat Islam tidak diajarkan Al-Qur’an. Kalau umat Islam di hina dan diejek karena dianggap tidak mengerti konsep, politik Islam, ekonomi Islam, inipun juga jangan menyalahkan orang lain, akan tetapi kenapa sekolah-sekolahan umat Islam sendiri yang diajarkan adalah politik demokrasi liberal, system ekonomi kapitalis, dan begitu seterusnya.

Karen akibat kesalahan umat Islam itu sendirilah maka umat Islam menjadi lemah dan selalu mngikuti tingkah laku orang-orang di luar islam yang sekarang ini menjajah ideologi kita ini. Dan kerna umat Islam tidak berwibawa lagi. Di sini Rasulullah s.a.w bersabda :

“Hampir saja semua bangsa yang kafir itu bersatu mengepung kamu sekalian seperti binatang mengepung makanan yang dnegan mudah menerkamnya, kemudian ditanyakan kepada Rasulullah SAW : Apakah ketika itu karena kita sedikit ya Rasulullah; Rasulullah menjawab: Tidak, bahkan ketika itu kamu banyka, tapi kamu sekalian hanya bagaikan buih seperti buih banjir yang hanya ikut kemana air itu mengalir. Waktu itulah Allah mencabut dan menghilangkan rasa takut yang ada di dada musuh kamu ( Berarti mereka sudah tidak merasa takut lagi denga kamu dan kamu tidak berwibawa lagi.). dan waktu itu pula Allah SWT melemparkan rasa Wahn di dalam hati kamu. Lalu ditanyakan Apakah Wahn itu ya Rasulullah? Rasulullah menjawab : cinta dunia dan benci mati.”

Kaum muslimin rahimakumullah

Adapun sebab kemunduran dan kehancuran Islam yang datang dari luar yaitu memang adanya suatu usaha terencana dan terprogram dari musuh Islam yang hasut terhadap Islam. Mereka setelah tahu pada waktu perang salib bahwa Islam tidak bisa dilawan dengan fisik maka mereka merubah taktik yaitu dengan menghancurkan Islam dari dalam sendiri.

Allah berfirman:

“mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir benci.” (As Shaff: 8)

Oleh karena itu mereka berusaha dengan jalan memecah umat Islam, menodai ajaran Islam, menyebarkan pikiran beracun yang tidak Islami, memutarbalikkan sejarah Islam, membasmi nilai pergaulan secara Islami dari kalangan keluarga dan masyarakat Islam dan mengganti dan menyusupkan perbuatan yang kotor ke dalam masyarakat mulai dari maslahkecil seperti minum dengan tangn kiri sampai pada maslah besar seperti membolehkan pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya. Begiu pula mewajibkan renten ( bunga) dalam segala bentuk perdagangan atau ekonomi dan seterusnya.

Sehingga apabila umat Islam terpancing atau terpengaruh maka tanpa diserang sudah hancur dengan sendirinya dan banyaklah yang murtad dari Islam (Na’ uzubillah). Cara seperti itulah yang mereka lakukan agar umat Islam menerima segala cara yang datang dari luar Islam dan tidak mengenal lagi ajaran Allah dan RasulNya, Sehingga secara otomatis umat Islam meniru mereka (musuh-musuh Islam) secara keseluruhan, meniru cara dan gaya hidup, cara berfikirnya, cara ekonominya, cara pergaulannya, dan sebagainnya. Dan itulah yang disebut dalam hadist Rasulullah SAW :

“Kamu sekalian pasti akan meniru tingkah lakuo rang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sejiro (hasta) demi sejiro (artinya sedikit demi sedikit) meniru cara pergaulannya, cara berpakaiannya, cara pendidikannya dan seterusnya. Sehinga andaikan mereka masuk liang binatang biawak (dob) pasti kamu ikut pula. Kemudian para sahabat bertanya : apakah mereka yang ikut itu orang-orang yahudi atau nasrani ya Rasulullah? Rasulullah menjawab : siapa lagi kalu bukan mereka.”

Kaum muslimin rahimakumullah

Bahkan yang lebih aneh lagi para hadirin, saking halusnya pengaruh mereka itu sesuatu yang jelek menurut agama malah dianggap baik. Dan yang mestinya menjadi tuntunan malah menjadi tontonan, yang mestinya hak malah dianggap bathil. Suatu contoh membaca Al-Qur’an baik menurut agam tapi malah dikatakan kolot, menutup aurat dengan jilbab adalah baik malah dikatakan kampungan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: