Dalil-Dalil Ulama Salafus-Shalih yang Membolehkan Nyanyian dan Musik (Bagian I)

Ikhwah wa akhwat fiLLAAH a’azzakumuLLAAH, sebagai salah satu contoh dari pembahasan kita yang lalu tentang berbagai perbedaan pendapat dalam masalah furu’iyyah-fiqhiyyah yang masing-masing memiliki kekuatan hujjah serta dalil yang shahih, akan ana bahas di sini contoh yang berkaitan dengan masalah nyanyian dan musik..Di berbagai website dan millist diposting fatwa-fatwa yang ulama mengharamkan nyanyian dan musik, dan ini menurut ana -demi ALLAAH- adalah baik, karena para pemusik akhir-akhir ini sudah banyak yang terjerumus kepada perilaku ghuluww (berlebihan) yang memang diharamkan, bahkan ada pula yang sudah terjatuh kepada syirik karena bait-bait syairnya sudah menyentuh esensi tauhid kepada ALLAAH Yang maha Tinggi lagi Maha Esa..

Tetapi yang menjadi masalah, adalah jika hal ini kemudian dianggap sudah qath’iy (pasti kebenarannya) lalu celaan dan vonis dilontarkan seolah-olah masalah ini sudah muttafaq-‘alayh (disepakati kebenarannya) di kalangan kaum Salaf, kemudian yang lebih parah hal inipun diikuti dengan tuduhan-tuduhan muttabi’ul-hawa’ (para pengikut hawa nafsu), ‘abdul-kuffar (pengabdi orang kafir) oleh sebagian kaum juhala’ terhadap fatwa para ulama yang berbeda dalam masalah ini, maka ini sikap seperti ini adalah telah menyimpang dan harus diluruskan..

Ikhwah wa akhwat a’anakumuLLAAH, jika kalangan ulama mujtahidun masing-masing mereka bersikap keras dan tegas dengan pendapatnya masing-masing, maka yang demikian itu memang dibolehkan, karena hal demikian adalah demi untuk menegakkan hujjah dan menjelaskan dalil masing-masing pihak di antara mereka, dan yang demikian ini biasa di kalangan salaf, tapi jika sikap ini kemudian diikuti oleh para pengikutnya, maka hal ini hanyalah menunjukkan kebodohan dan lemahnya ilmu serta rendahnya akhlaq belaka..

Mengapakah para muqallidin (pengikut) ini ikut-ikutan bersikap-keras dan mencela serta memvonis? Apakah mereka sedang menegakkan hujjah, maka hujjah apakah itu namanya, jika cuma bisa meng-copy fatwa Syaikh Fulan dan ustaz Fulan? Siapakah mereka sehingga berani menyalahkan ulama mujtahid yang berbeda dengan mereka, yang pendapatnya juga disandarkan kepada dalil yang shahih? Tidaklah hal yang demikian ini kecuali hanya menunjukkan tong kosong yang berbunyi nyaring dan juga berakhlaq kering, salaamun ‘alaykum laa nabtaghil jaahiliin..

Arti Bahasa

Nyanyian/lagu (الغناء / dengan huruf ‘ghin’ yang ber-harakat kasrah): diartikan melebihkan/memperindah[1] sebagaimana dalam hadits “Bukan golonganku orang yang tidak melebihkan/memperindah suara saat membaca Al-Qur’an[2]”; juga diartikan suara, keindahan dan kecantikan[3]; nyanyian, tabuhan, senandung/nasyid, bacaan yang nyaring dan merdu[4] sebagaimana dalam hadits: “Tidaklah ALLAAH SWT lebih menyukai sesuatu daripada mendengar bacaan Nabi-NYA yang membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu[5]” Atau dalam hadits lainnya: “Hiasilah Al-Qur’an itu dengan suaramu, karena suara yang indah akan menambahkan keindahan Al-Qur’an”[6]; juga bermakna alat musik[7] juga Sya’ir[8] sebagaimana yang dilakukan Al-Hasan bin Tsabbit ra ahli sya’ir di masa nabi SAW; tapi ia juga bisa bermakna (اللهو/melalaikan), sebagimana dalam ayat (لهو الحديث)[9] atau dalam ayat yang lain (اولهوا)[10]. Jadi nampak jelaslah bahwa ia memiliki dua makna yang berbeda, makna yang baik (sebagaimana dalam hadits-hadits di atas) maupun makna yang yang buruk (sebagaimana dalam ayat-ayat di atas), sehingga membawa makna yang hakiki hanya pada satu makna saja, hanyalah sebuah kezhaliman belaka.

Dalil-Dalil Al-Qur’an yang Dianggap Mengharamkan dan Bantahannya

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.[11]”

Ada atsar shahih dari Ibnu Mas’ud ra yang bersumpah dengan berkata: “Demi ALLAAH maksudnya adalah nyanyian.[12]” Sebagian ulama salaf menyebutkan bahwa tafsir sahabat ra sederajat dengan hadits marfu’, demikian pendapat Al-Hakim dan Ibnul Qayyim[13], sehingga tafsir ini dianggap merupakan satu-satunya tafsir atas ayat tersebut.

Pendapat ini dibantah oleh sebagian ulama Salaf lainnya, bahwa pendapat tafsir sahabat ra sederajat dengan hadits marfu’ tidak benar kecuali jika mengenai sabab-nuzul ayat saja, karena seringkali antara seorang sahabat ra dengan sahabat ra yang lain berbeda pendapat dalam menafsirkan sebuah ayat, maka bagaimana mungkin disetarakan dengan hadits marfu’[14]?

Diantara mereka yang tidak setuju dengan pendapat tafsir sahabat ra sederajat dengan hadits marfu’ ini adalah Imam Ibnu Hazm beliau –rahimahuLLAAH- berhujjah sbb: 1) Tidak ada seorangpun yang pendapatnya ma’shum kecuali Nabi SAW, 2) Tafsiran tersebut berbeda dengan tafsiran sahabat ra dan tabi’in yang lainnya, 3) Nash ayat itu sendiri sudah membantah hujjah mereka sendiri.

Ana berkata: Benarlah apa yang dikatakan Imam Ibnu Hazm tersebut, berkaitan dengan point (2) yang dikatakannya misalnya, tafadhal dilihat dalam tafsir Ulama Salaf atas ayat tersebut, bahwa terjadi perbedaan pendapat tentang makna ayat ini, ada yang berpendapat maknanya adalah “nyanyian dan musik[15]”; ada yang berpendapat maknanya adalah “kata-kata yang batil” ada yang berpendapat maknanya adalah “syirik”[16]. Bahkan Syaikhul Mufassir di kalangan Ulama Salaf sendiri, yaitu Imam At-Thabari setelah menyebutkan perbedaan pendapat tentang tafsir ayat ini berkata: “Yang benar menurut pendapatku adalah: Segala sesuatu perkataan yang melalaikan dari jalan ALLAAH, maka semua itu yang termasuk yang dilarang oleh ALLAAH dan Rasul-NYA, karena ALLAAH SWT menjelaskan dengan lafzh yang umum (‘amm) dan IA tidak mengkhushuskannya dengan sesuatu pun, maka ia tetap pada keumumannya sampai adanya dalil tentang pengkhushusan maknanya, maka baik itu musik, atau syirik semuanya bisa saja menjadi maknanya.[17]” SELESAI KUTIPAN DARI IMAM AT-THABARI

Adapun berkaitan dengan hujjah ke (3) yang dikatakannya juga benar –dengan izin ALLAAH, insya ALLAAH- karena ayat tersebut mengancam pelakunya menjadi kufr biduni khilaf (kafir tanpa khilaf lagi), sementara tidak ada keterangan Salaf yang menyatakan bahwa bermain musik menjadikan pelakunya menjadi kafir sebagaimana ancaman dalam ayat ini[18], Imam Ibnu Athiyyah juga berpendapat kafirnya pelaku dalam ayat ini[19], Imam Ar-Razi menyatakan bahwa demikian jahatnya pelaku yang dicela dalam ayat ini, karena mereka bersifat: (1) Menjual ayat ALLAAH dengan harga murah, (2) Bersikap sombong luar-biasa, yang dicirikan dengan kalimat (مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْها) takabbur yang sangat, (3) Hati yang keras membatu tidak bisa menerima kebenaran (كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا)[20]; maka kesemuanya itu tidak mungkin dikarenakan hanya karena ia adalah seorang pemusik atau ia suka mendengarkan musik. WaliLLAAHil hamdu wal minah..

(Bersambung insya ALLAAH tabaraka wa ta’ala…)

___
Catatan Kaki:

[1] Al-Muhith fil Lughah, I/421

[2] HR Bukhari, Bab Man Lam Yataghanna bil Qur’an, XVII/20

[3] Jamharah Al-Lughah, II/108; juga II/27

[4] Al-Mukhashshish, I/178

[5] HR Muslim, Bab Istihbab Tahsinu Shaut, V/204

[6] HR Al-Hakim, I/575; Abu Daud no. 1320; Ibnu Sa’ad, VI/90; dan di-shahih-kan oleh Albani dalam Ash-Shahihah, II/414

[7] Al-Mu’jam Al-Wasith, II/241

[8] Mu’jam Lughah Al-Fuqaha’, I/335

[9] QS Luqman, 31/6

[10] QS Al-Jum’ah, 62/11

[11] QS Luqman, 31/6

[12] HR Al-Baihaqi, dalam Al-Kubra’, X/223

[13] Ighatsatu Lahfan, I/258-259

[14] Al-Muhalla, IX/10

[15] Tafsir At-Thabari, XX/126

[16] Ibid, XX/129

[17] Ibid, XX/130

[18] Ana katakan: Bahkan ahlul-hadits setingkat Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya yang terkenal tentang dosa2 besar, yaitu Al-Kaba’ir tidak memasukkan nyanyian dan musik sebagai dosa besar yang mengkafirkan pelakunya, maka bagaimana ia bisa menjadi penyebab kekafiran sebagaimana diancam oleh ayat ini? Bahkan Imam Ibnul Qayyim yang mengharamkan nyanyian-pun menyatakan bahwa sifat2 dalam ayat ini tidak akan ada kecuali kepada orang yang amat kufur kepada ALLAAH (Lih. Penjelasannya dalam kitabnya Ighatsatu Lahfan, I/259). Fa’tabiru ya ulil albab..

[19] Al-Wajiz, XI/484

[20] Al-Kabir, XIII/141-142

Responses

  1. saya sangat setuju tentang hal ini karna di dalam perkembangan di jasman yang modern ini bisa saja kita berdakwah melalui alat tersebut karna di kalangan anak-anak sekarang diminan yang paling di sukai yaitu musik

  2. masyaAllah.
    wallahul musta’an akhi.
    belajar dulu yang baik,baru antum menyelisihi dgn dalil” yg antum terjemahkan sendiri.

    sesungguhnya jika nasyid memang baik,kenapa tidak dipakai oleh Rasulullah sejak dulu untuk berdakwah ?

    dgn alasan zaman sekarang kondisinya sdh seperti ini ?
    justru krn zaman sudah lebih banyak dipenuhi fitnah, giatlah dalam belajar & berdakwah dgn ittiba’ kpd Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam.

    salah satu bukti nasyid melalaikan adalah, berapa banyak muslim yg “ngaji”, lebih banyak hafal nasyid daripada al-qur’an ?

    bandingkan, berapa lagu” yg mereka hafal dan berapa juz al-qur’an yg mereka hafal ?

    seringkali nasyid dijadikan sarana taqarub ilallah, padahal masyaAllah, Rasulullah tidak pernah bermuhasabah atau bahkan taqarub ilallah dengan musik/pun nasyid.

    wallahul musta’an.

  3. terusterang ana masih bingung tentang musik ini

    haram tw boleh/????????

  4. Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh….

    smoga Allah selalu merahmati hamba-Nya yang senantiasa menegakkan dien ini..

    setelah membaca artikel saudara di atas semakin yakinlah ana kalau musik itu hukumnya adalah HARAM… mengapa ana berpendapat demikian karena dari sekian banyaak penjelasan saudara mengenai dalil dibolehkannya Musik tidak ada satupun dalil yang secara langsung menjelaskan bahwa “musik itu halal/dibolehkan”. semuanya hanya bersifat penafsiran..

    addapun dalil pengharaman alat2 musik sangat jelas :
    Dari Abdurrahman bin Ghanm, ia berkata, Abu Amir atau Abu Malik Al-Asy’ari Radhiyallahu Anhuma bercerita bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

    “Akan ada dari umatku kaum yang menghalalkan perzinaan, sutra, khamar dan alat-alat musik.”

    kalau saudara masih membolehkan musik, maka ana mohon penjelasan saudara mengenai hadits di atas yang secara langsung menjelaskan bahwa alat2 musik i2 haram….

    semoga rahmat dan taufiq-Nya selalu tercurah pada kita..

    .
    wallahu a’lam….

  5. Ana ering bertemu dg org2 seperti ini.. Mereka membawakan ayat2 Al_Qur’an.. Lalu ditafsirkan sendiri.. Maka bukan Wahyu yang terucap dari lisannya.. Tapi Ro’yu.. Padahal jelas2 tidak ada perselisihan.. tentang masalah ini.. hanya sj mungkin ikhwan/akhwat yg mesih sering menyimak fatwa dari Yusuf Al-Qordawi yang menjadikan ijhtihadnya staraf dengan ulama. Pdahal tidak ada seorang ulam pun mengangkatnya sbg Syeikh (ulama)

  6. sebetulnya ana faham… buat mereka yg mengharamkan…
    tapi tanpa mengurangi pemahaman ana dari Qur’an dan Sunnah…pahamilah dengan bijak…! banyak saudara2 kita yg belum bisa bisa memahami Islam.

    Sekarang contoh, misalnya : mereka musuh2 Islam, mereka memberikan pemahaman tentang Valentine day apakah dengan mengajak kesebuah seminar untuk memahami valentine mereka lagsung paham, tapi dengan lagu para misionaris meminta musisi mereka membuat lagu tentang valentine… mereka mudah sekali memahaminya…

    apa salahnya kita menyikapi masalah ummat yg modern yg begitu mudah orang untuk melakukan maksiat dengan canggih… kita lawan dengan cara mereka juga… mereka membuat FB, kita harus meredamnya dan berbaur, mereka membuat lagu atau penyanyi yg mengahancurkan karakter sifat remaja muslim kita lawan dengan musik-musik Islami…

    Buat antum yg paham… boleh saja antum ga usah mendengar musik…
    tapi buat mereka yg belum paham tentang Islam … apa salahnya kita berikan lewat musik islami…

    Islam mudah maka jangan di persulit…. (QS Thoha : 1-3)
    Afwan…

  7. Ini ada beberapa hadits tentang musik/lagu/nyanyian:

    Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Umar Radliyallaahu ‘anhu melewati Hassan yang sedang bernyanyi di dalam masjid, lalu ia memandangnya. Maka berkatalah Hassan: Aku juga pernah bernyanyi di dalamnya, dan di dalamnya ada orang yang lebih mulia daripada engkau. (Muttafaq Alaihi) -Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam, Oleh : Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Ashqolani-

    Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:
    Bahwa Rasulullah saw. tiba di Madinah. Beliau singgah di Madinah Atas, suatu daerah yang dikenal dengan Bani Amru bin Auf dan tinggal bersama mereka selama empat belas malam. (Suatu saat) beliau menyuruh untuk memanggil tokoh Bani Najar. Lalu mereka pun datang sambil menyandang pedangnya masing-masing. Nampaknya aku melihat Rasulullah saw. berada di atas hewan kendaraannya dan Abu Bakar membonceng di belakangnya dan tokoh-tokoh Bani Najar mengelilingi beliau sampai tiba di halaman rumah milik Abu Ayyub. Rasulullah selalu salat di mana saja waktu salat ditemuinya. Pernah beliau salat di kandang kambing. Kemudian beliau memerintahkan untuk membangun sebuah mesjid. Selanjutnya beliau memangil tokoh-tokoh Bani Najar, dan mereka pun datang. Beliau bersabda: Wahai Bani Najar, tentukan padaku harga kebun kalian ini. Mereka menjawab: Tidak, demi Allah. Kami tidak akan menuntut harganya kecuali kepada Allah. Anas ra. berkata lagi: Di kebun itu ada pohon kurma, kuburan orang-orang musyrik, dan puing-puing reruntuhan. Rasulullah saw. lantas memerintahkan untuk memotong pohon kurma, menggali kuburan orang-orang musyrik dan meratakan puing. Mereka mendirikan (bekas-bekas) pohon kurma sebagai petunjuk kiblat, dan membuat pintu gerbang dari sebuah batu besar. Mereka melakukan semua itu sambil menyanyikan lagu-lagu yang dapat membangkitkan semangat dan Rasulullah saw. ikut bersama mereka. Mereka berkata: Ya Allah, sesungguhnya tidak ada kebaikan selain di akhirat, tolonglah orang-orang Ansar dan orang-orang muhajirin. (Shahih Muslim No.816)

    Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
    Abu Bakar pernah datang ke rumahku ketika dua orang gadis Ansar berada di dekatku. Mereka saling tanya jawab dengan syair yang dilantunkan orang-orang Ansar pada hari Bu’ats (hari peperangan antara kabilah Aus dan Khazraj). Aisyah berkata: Sebenarnya mereka berdua bukanlah penyanyi. Abu Bakar berkomentar: Apakah ada nyanyian setan di rumah Rasulullah saw. Hal itu terjadi pada hari raya. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Hai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya dan ini adalah hari raya kita. (Shahih Muslim No.1479)

    Nah, yg diharamkan adalah yg seperti ini:

    Nyanyian dan permainan hiburan yang melalaikan menumbuhkan kemunafikan dalam hati, bagaikan air menumbuhkan rerumputan. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, sesungguhnya Al Qur’an dan zikir menumbuhkan keimanan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan. (HR. Ad-Dailami)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: