Dalil-Dalil Ulama Salafus-Shalih yang Membolehkan Nyanyian dan Musik (Bagian III)

Hujjah Ketiga: Dalil-Dalil Lainnya dari Al-Qur’an

Ikhwah wa akhwat fiddiin a’azzakumuLLAAH, ada beberapa dalil lain dari Al-Qur’an yang sering dikemukakan oleh mereka yang mengharamkan musik, ana sampaikan di bawah ini berikut bantahannya berdasarkan referensi para ulama Salafus Shalih sebagai berikut:

1. Qawla Az-Zuur:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”[1]

Sebagian Ulama Salaf menafsirkan makna az-zuur dalam ayat ini sebagai nyanyian, di antara mereka Muhammad bin Al-Hanafiah, Al-Hasan, Mujahid & Abu Jahhaf. Berkata Al-Kalbi: Maksudnya adalah majlis bathil & mendengar nyanyian adalah termasuk majlis bathil tersebut[2].

Berkaitan dengan ini mari kita lihat pendapat beberapa ulama Salaf yang lain sebagai berikut: berkata Imam Abu Ja’far bahwa makna yasyhadunaz-zur ulama berbeda pendapat, sebagian menafsirkannya syirik kepada ALLAAH, sebagian menafsirkannya nyanyian, sebagian menafsirkannya kata-kata dusta[3]. Berkata Ibnu Katsir bahwa sebagian menafsirkannya syirik & menyembah berhala; sebagian lagi menafsirkan dusta, kefasikan, hal yang tidak bermanfaat & kebathilan; sebagian lagi menafsirkannya majlis keburukan; sebagian lagi menafsirkannya saksi palsu[4] sesuai asal maknanya[5]. Imam Al-Baghawi menambahkan bahwa Adh Dhahhak berkata: mayoritas ulama menafsirkannya syirik; berkata Ali bin Thalhah: maknanya saksi palsu, dan ini diperkuat bahwa Umar RA mencambuk pelaku saksi palsu 40 cambukan; berkata Ibnu Juraij: maknanya kedustaan; berkata Mujahid: maknanya sembahan orang-orang musyrik; berkata Qatadah: maknanya ahlul bathil; berkata Ibnu Mas’ud: maknanya musik & nyanyian[6]. Berkata Imam Al-Baghawi maknanya hal-hal yang menyimpang dari kebenaran, seperti kata-kata yang dusta & perbuatan demikian[7]. Berkata Syaikh Al-Qaradhawi: Kaidah fiqh menyebutkan jika ada beberapa pendapat yang seluruhnya atau sebagiannya disandarkan pada dalil yang kuat maka ia tidak dapat dimutlakkan hukumnya[8].

2. Shawtika (Suara Syaithan):

وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

“Dan ajaklah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka.”[9]

Berkata Imam At-Thabari bahwa terjadi ikhtilaf ulama dalam makna shawtika ini, sebagian memaknainya: Nyanyian & permainan; ada yang memaknainya: Ajakan untuk mengikutimu (syaithan) & bermaksiat pada ALLAAH SWT[10]; ada yang memaknainya: Seruan/ajakan[11]. Imam Al-Baghawi memilih maknanya: Semua seruan ke arah maksiat pada ALLAAH SWT[12]. Imam Al-Qurthubi mensitir pendapat Ibnu Abbas RA bhw maknanya adalah bisikan was-wasmu[13].

3. Samidun (Melalaikan):

وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ

“Sedang kamu melengahkan(nya)?[14]”

Berkata Imam Abu Ja’far memilih pendapat yang menyebutkan bahwa maknanya: Melalaikannya[15]. Imam Ibnu Katsir menyebutkan beberapa pendapat, di antaranya: Ikrimah berpendapat: Nyanyian; Mujahid & Ikrimah (dalam riwayat lain) berpendapat: keberpalingan; Al-Hasan (dari riwayat Ali RA) berpendapat: kelalaian; Ibnu Abbas berpendapat: kesombongan[16], ini diperkuat oleh As-Suddi[17]. Imam Al-Qurthubi mensitir pendapat Al-Mubarrid bhw maknanya adalah mereka yang binasa[18].

Imam Al-Ghazali memiliki pendapat yang cerdas saat mengomentari mereka yang bersikukuh bahwa makna ayat ini tetap adalah nyanyian, maka ia menjawab sebagai berikut: Sepatutnya jika kalian berpendapat demikian, maka tertawa & tidak menangis pun kalian haramkan pula[19], lalu lanjut beliau; Jika hujjahku ini dijawab: Tertawa & tidak menangis yang dimaksudkan adalah yang mentertawakan & tidak menangis atas ayat ALLAAH, sesuai konteks ayat ini; Maka kujawab: Demikian pula jika dimaknai nyanyian & musik, berarti nyanyian & musik yang mengejek ayat ALLAAH SWT & bermaksiat kepada-NYA, adapun yang tidak demikian maka hukumnya sama dengan tertawa & tidak menangis dalam hal yang mubah[20]. AlhamduliLLAAH, selesai –dengan idzin ALLAAH SWT- pembahasan masalah ini berdasarkan ayat Al-Qur’an, insya ALLAAH pembahasan selanjutnya membahas hadits-hadits tentang musik & nyanyian. WaLLAAHu waliyyut taufiiq…

(Bersambung, jika kelak diizinkan oleh Allah SWT…)

___
Catatan Kaki:

[1] QS Al-Furqan, 25/72

[2] Lih. Ighatsatu Lahafan fi Mashayidis Syaithan, I/260

[3] Tafsir At-Thabari, XIX/314

[4] Dan ini sesuai dengan yang disebutkan dalam HR Bukhari no. 2654 & Muslim no. 87

[5] Tafsir Ibnu Katsir, VI/130-131

[6] Tafsir Al-Baghawi, VI/98

[7] Tafsir Al-Biqa’i, VI/45

[8] Saya berkata: Inilah insya ALLAAH yang benar, sesuai dengan berbagai dalil yang telah dikemukakannya hafizhahuLLAAH, namun jikapun tetap ingin dilakukan tarjih sesuai dalil yang lebih kuat, maka makna saksi-palsu lebih kuat dalilnya (HR Bukhari-Muslim) dibandingkan dengan dimaknai musik, waLLAAHu a’lam.

[9] QS Al-Isra’, 17/64

[10] Imam Ibnu Katsir juga menyebutkan kedua makna ini dalam tafsirnya, III/93

[11] Tafsir At-Thabari, XVII/491

[12] Tafsir Al-Baghawi, V/105

[13] Tafsir Al-Qurthubi, X/288

[14] QS An-Najm, 53/61

[15] Tafsir At-Thabari, XXII/559

[16] Ini semua juga menjadi pendapatnya Imam Al-Baghawi dalam tafsirnya, VII/421

[17] Tafsir Ibnu Katsir, VII/468

[18] Tafsir Al-Qurthubi, XVIII/133

[19] Yaitu ayat sebelumnya (QS 53/60)

[20] Ihya ‘Ulumuddin, II/285

Dikutip dari : http://www.al-ikhwan.net/

Responses

  1. jadi intinya pake pendapat Al-Ghazali nih???

  2. assalamu’alaykum..
    Ada buku bagus judulnya Noktah-noktah Hitam Senandung Setan karangan Ibnu
    Qoyyim al Jauziyah. Berikut resensi singkatnya.

    Judul buku : NOKTAH-NOKTAH HITAM SENANDUNG SETAN
    Judul asli : Kasyful Ghithaa’ ‘An Hukmi Samaa’i Ghinaa’
    Penulis : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
    Penerjemah : Abu Ihsan Atsari
    Penerbit : Darul Haq, Jakarta
    Tahun cetakan : (Cetakan I) Muharram 1422 H/ April 2002 M
    Ukuran buku : 26 cm, 315 halaman
    Harga : Rp 45.000,-

    insya alloh semua permasalahan tentang hukum nyanyian ataupun musik sudah dibahas secara rinci dalam buku ini.
    semoga bermanfaat,,
    wassalamu’alaykum.,

  3. semoga ini menjadi referensi saya….atas profesi yg sy jalani..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: